Sejak lahir bocah 6 tahun di Kuansing tidak memiliki anus
beritapersahabatan.blogspot.com - Aldo (6) anak seorang petani miskin warga Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau lahir tanpa anus hingga kesulitan buang air besar perlu mendapatkan perawatan insentif, bantuan biaya untuk kesembuhannya, akibat kekurangan biaya terpaksa menderita hingga enam tahun dan buang kotoran lewat perut.
"Saya sangat sedih dan perihatin melihat kehidupan Aldo dan keluarganya yang terlihat susah dan hidup pas pasan hingga tidak bisa membiayai perobatan anaknya, sementara pihak pemerintah setempat belum memberikan bantuan," kata salah satu warga Taluk Hendranto (34) sebagai pemerhati kesehatan di Taluk, seperti dikutip dari Antara, Selasa (10/6).
Dia mengatakan, nasib malang yang menimpa Aldo sudah saatnya semua pihak menunjukan kepedulian dan memberikan bantuan supaya Aldo bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Bantuan khususnya dari Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis yang selama ini disebut-sebut pro rakyat.
Aldo sudah menderita sakit berkisar enam tahun, karena minimnya biaya dia terpaksa dibiarkan oleh keluarganya. Sebagai orang tua tentunya menginginkan anaknya sehat, namun karena tidak memiliki biaya maka mereka hanya berusaha semampunya untuk perobatan anaknya tersebut.
"Saya melihat setiap hari Aldo kesakitan, terkadang menetes air mata melihat nasibnya," ucap Hendri.
Kedua orang tua bocah malang ini, Sahrir dan Minesti, hanya mengandalkan hidupnya dari kerja serabutan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Mereka terpaksa membiarkan anaknya hidup dengan kondisi tanpa anus. Walaupun mereka memiliki kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), warga miskin tetap saja kesulitan mendapatkan pengobatan yang layak, khususnya bila dihadapkan pada mahalnya biaya.
"Balita berusia enam tahun ini hidup dengan saluran usus yang menggantung di luar tubuhnya beberapa centimeter," katanya.
Tampak saluran usus yang selalu merah dan basah ini merupakan saluran pembuangan kotoran bantuan. Meski dengan biaya seadanya, kedua orang tuanya nekat membawa Aldo ke rumah sakit di Pekanbaru beberapa tahun lalu untuk operasi.
Proses operasi memang berjalan. Namun pasca operasi, Aldo tidak mendapat perawatan yang layak karena biaya yang mencapai puluhan juta rupiah. Sementara Minesti, saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (7/6) mengatakan, anaknya kerap kali mengalami rasa sakit pada bagian ususnya saat mau buang air besar saat ini berharap uluran tangan semua pihak.
Aldo dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah kawasan yang tidak terlalu nyaman, di suatu lorong sempit. Di kiri kanan jalan menuju rumah itu hampir ditumbuhi semak belukar. Ayah Aldo bekerja sebagai buruh harian di Teluk Kuantan, dengan penghasilan yang pas-pasan.
"Saya sangat sedih dan perihatin melihat kehidupan Aldo dan keluarganya yang terlihat susah dan hidup pas pasan hingga tidak bisa membiayai perobatan anaknya, sementara pihak pemerintah setempat belum memberikan bantuan," kata salah satu warga Taluk Hendranto (34) sebagai pemerhati kesehatan di Taluk, seperti dikutip dari Antara, Selasa (10/6).
Dia mengatakan, nasib malang yang menimpa Aldo sudah saatnya semua pihak menunjukan kepedulian dan memberikan bantuan supaya Aldo bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Bantuan khususnya dari Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis yang selama ini disebut-sebut pro rakyat.
Aldo sudah menderita sakit berkisar enam tahun, karena minimnya biaya dia terpaksa dibiarkan oleh keluarganya. Sebagai orang tua tentunya menginginkan anaknya sehat, namun karena tidak memiliki biaya maka mereka hanya berusaha semampunya untuk perobatan anaknya tersebut.
"Saya melihat setiap hari Aldo kesakitan, terkadang menetes air mata melihat nasibnya," ucap Hendri.
Kedua orang tua bocah malang ini, Sahrir dan Minesti, hanya mengandalkan hidupnya dari kerja serabutan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Mereka terpaksa membiarkan anaknya hidup dengan kondisi tanpa anus. Walaupun mereka memiliki kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), warga miskin tetap saja kesulitan mendapatkan pengobatan yang layak, khususnya bila dihadapkan pada mahalnya biaya.
"Balita berusia enam tahun ini hidup dengan saluran usus yang menggantung di luar tubuhnya beberapa centimeter," katanya.
Tampak saluran usus yang selalu merah dan basah ini merupakan saluran pembuangan kotoran bantuan. Meski dengan biaya seadanya, kedua orang tuanya nekat membawa Aldo ke rumah sakit di Pekanbaru beberapa tahun lalu untuk operasi.
Proses operasi memang berjalan. Namun pasca operasi, Aldo tidak mendapat perawatan yang layak karena biaya yang mencapai puluhan juta rupiah. Sementara Minesti, saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (7/6) mengatakan, anaknya kerap kali mengalami rasa sakit pada bagian ususnya saat mau buang air besar saat ini berharap uluran tangan semua pihak.
Aldo dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah kawasan yang tidak terlalu nyaman, di suatu lorong sempit. Di kiri kanan jalan menuju rumah itu hampir ditumbuhi semak belukar. Ayah Aldo bekerja sebagai buruh harian di Teluk Kuantan, dengan penghasilan yang pas-pasan.
.jpg)
